Minggu, 27 Mei 2012

Review : The Avengers (2012)



Guys, I'm bringing the party to you. -Tony Stark. Mungkin tidak akan ada di pikiran sebelumnya, kalau para jagoan dari komik buatan marvel yang bersatu dalam The Avengers akan dibuat menjadi sebuah film. Para Marvel Fan, sebelum The Avengers hadir sudah melihat Iron Man, Thor, Captain America dan Hulk dalam film yang menggambarkan mereka masing – masing. Tapi nyatanya ketika mereka digabung menjadi satu dalam film yang sama, menjadi film yang sangat menghibur dan massive. Film ini disutradarai oleh Joss Whedon yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis untuk beberapa TV Series dan baru – baru ini ia menjadi writer untuk The Cabin In The Woods yang juga dibintangi oleh si “Thor”, Chris Hemsworth.

Sudah pasti anda sudah bisa menebak beberapa cast yang ada di film ini, karena The Avengers adalah film yang sudah ditunggu – tunggu sejak film ini memulai proses syutingnya. Selain Chris Hemsworth, ada Robert Downey Jr., Chris Evans tapi untuk Hulk bukan diperankan oleh Edward Norton atau Eric Bana tapi dibintangi oleh Mark Ruffalo yang berhasil berakting dalam The Kids Are All Right bersama Julianne Moore. Dan kehadiran si sexy Scarlett Johansson yang berperan sebagai Black Widow pun sudah pastinya membuat para pria menunggu dalam setiap scene dari film The Avengers ini.

Cerita bermula dengan kehadiran Loki (Tom Hiddleston) dalam sebuah lab yang akhirnya ia memiliki Tesseract, kemudian ia juga berhasil mengubah kedudukan Barton (Jeremy Renner) dan Dr.Selvig (Stellan Skarsgard). Tadinya Selvig dan Barton sangat baik terhadap crew / agent dari The Avengers, namun kini mereka berubah jahat dan tunduk terhadap perintah yang diberikan oleh Loki. Untuk itu Nick Fury memanggil beberapa superhero yang selama ini ia kenal, untuk bersama bahu membahu melawan Loki dan mengambil kembali Tesseract dari tangannya.

Untuk dari segi cerita sebenarnya biasa aja, keberhasilan dari film ini adalah adegan explosive dimana – mana. Selain itu juga adanya jokes – jokes yang diselipkan dalam film ini dan saya rasa elemen ini sangat berhasil membantu kesukesan film ini. Bukti dari kesuksesan film ini adalah menjadi nomor 1 di Box Office Amerika selama beberapa minggu. Namun yang saya rasakan ketika scene battle dari film ini, seperti menyaksikan kembali adegan aksi pamungkas Transformers : Dark Of The Moon. Secara keseluruhan boleh dikatakan film ini lumayan menghibur. Sayangnya saya hanya menyaksikan film ini dalam format 2D Digital saja, menurut beberapa orang yang dalam menyaksikan dalam format IMAX menyatakan film ini lebih gila lagi jika disaksikan dalam format tersebut. Oh iya sekedar info, berbarengan film ini tayang secara wide, salah satu rumah produksi film porn mengeluarkan atau memproduksi porn parody dari film ini. Bagi yang belum menonton, tidak salahnya untuk anda menyaksikan film ini di bioskop, karena ketika menyaksikan film ini di home video feelnya menurut saya akan terasa berbeda.  

Cast : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth,  Mark Ruffalo
Director : Joss Whedon

Rating :
3/5

Movie Still :

























Kamis, 24 Mei 2012

Review : Lovely Man (2012)

       "Ini kan untuk kamu" - Ipuy. Belum pernah membayangkan sebelumnya jika seorang pria transgender, memiliki seorang anak dan pernah menikah. Hal ini lah yang terjadi terhadap Saiful (Donny Damara) atau yang ketika malam dipanggil sebagai Ipuy. Ipuy adalah seorang waria, yang tiap malamnya ia mencari rejeki dengan memuaskan nafsu para lelaki hidung belang. Suatu hari anak perempuannya bernama Cahaya (Raihaanun) datang dari kampong ke kota untuk menemuinnya. Sudah 15 tahun Saiful tidak menemui Cahaya, sampai akhirnya sekarang Cahaya sudah lulus SMA. Cahaya berniat datang ke kota hanya ingin bertemu sang ayah, tapi hanya itukah yang dibawanya? Atau mungkin ada derita lain yang ia pendam dan ingin ia ceritakan ke Saiful, sang bapak?

     Memang tema yang sangat berbeda dari beberapa film Indonesia lain yang sudah tayang / beredar di bioskop – bioskop sebelumnya. Tahun lalu kalau tidak salah film ini sempat tayang di Q  film festival secara terbatas, banyak pujian yang terlontar dan membuat saya begitu tertarik untuk dapat menyaksikan film ini. Dan bersyukur akhirnya film ini tayang secara wide. Jujur secara keseluruhan film ini sangat menarik dari cerita, pendirecting-an yang dilakukan Teddy Soeriaatmadja. Chemistry diantara Donny dan Raihannun terbangun dengan baik, terlihat seperti seorang anak dan bapak yang benar – benar sudah hidup bersama dalam waktu lama.

      Yang harus diberikan applause adalah penampilan Donny Damara di film ini. Donny terlihat begitu total dalam memerankan karakternya kali ini. Ia tidak terlihat kaku, memerankan seorang waria yang berjalan kesana – kemari menggunakan high heels. Dan karena perannya ini pula, ia mendapatkan penghargaan sebagai Best Actor di Asian Film Awards. Film Lovely Man ini, juga tayang di beberapa festival film di beberapa negara. Film seperti ini lah yang membuat saya bangga, karena tidak hanya film kacrut dan pocong-pocongan saja yang dimiliki Indonesia. Tetapi banyak juga beberapa film berkualitas yang membawa nama Indonesia.

        Film yang berdurasi sekitar 75 menit ini, dibintangi bukan hanya oleh Donny Damara dan Raihaanun tapi juga ada Asrul Dahlan, Ari Syarif dan Yayu Unru. Film ini adalah film terbaru dari Teddy Soeriaatmadja, yang sebelumnya di tahun 2009 ia menyutradarai Ruma Maida. Dan dari saya film Lovely Man ini, menjadi film Indonesia terbaru yang sangat recommended. Kekurangan film ini mungkin durasinya yang terlalu cepat dan penonton masih ingin menyaksikan pertemuan Saiful dan Cahaya.  

Cast : Donny Damara, Raihaanun, Asrul Dahlan
Director : Teddy Soeriaatmadja

Rating :
3.5/5

Movie Still :




























 

Kamis, 10 Mei 2012

Review : The Devil Inside (2012)


 
Connect the cuts, connect the cuts, connect the cuts.- Maria Rossi. Seorang anak pasti merindukan kasih sayang dari orang tua atau jika tidak bertemu lama pasti ingin sekali untuk bertemu. Itu pula yang terjadi dengan Isabella Rossi (Fernanda Andrade) , ia sudah tidak bertemu dengan sang ibu sejak umur 8 tahun. Ketika Isabella berumur 8 tahun, ibunya Maria Rossi (Suzan Crowley) membunuh 3 orang tak bersalah ketika sedang dilakukannya pengusiran setan dalam tubuh Maria Rossi. Maria yang tadinya dirawat di Amerika dipindahkan ke Roma, Italia. Ia bertemu dengan beberapa pastor yang dikatakan ahli dalam bidang exorcism / pengusiran setan. Namun berhasilkah Isabella mengembalikan sang ibu ke keadaan semula dan lepas dari roh jahat?

Sebelumnya mungkin sudah banyak beberapa film yang mengambil tema exorcism dan sangat populer. Terakhir yang sangat menghebohkan adalah The Last Exorcism di tahun 2010, dimana ketika melihat The Devil Inside saya merasa tidak aneh dengan adegan “patah – patah “ .  Untuk alur cerita mungkin sedikit mirip dengan The Rite yang dibintangi oleh sir Anthony Hopkins. Perbedaannya mungkin kalau di The Rite bercerita tentang pastor muda yang datang ke Vatikan untuk belajar, sedangkan The Devil Inside seorang anak yang datang ke Vatikan untuk mempelajari apa itu exorcism dan apa yang terjadi terhadap ibunya. Jadi The Devil Inside tidak memiliki elemen yang tidak baru lagi untuk film yang bergenre seperti ini.

The Devil Inside dibuat dengan seakan – akan seperti sebuah dokumenter, dan beberapa scene di film ini menggunakan tehnik handheld camera. William Brent Bell saya bilang bisa membawa film ini dengan baik dari awal cerita, namun terasa kedodoran di akhir karena saya rasa penyelesaiannya tidak ada dan malah terkesan menggantung.  Trailer dari film ini saya katakan memang sangat menipu, karena keseraman yang dimunculkan di trailer, tidak begitu terasa sekali di filmnya. Untuk yang sangat fans dengan film bergenre horror bolehlah mencoba menonton film ini, tapi turunkan ekspetasi anda saya takut anda akan kecewa ketika anda terlalu memiliki ekspetasi yang tinggi terhadap film ini.

Film horror keluaran Paramount Insurge ini dibintangi oleh Fernanda Andrade, Simon Quarterman, Evan Helmuth . Untuk karakter Maria Rossi diperankan oleh Suzan Crowley sedangkan Rosa diperankan oleh Bonnie Morgan. Bonnie sebelumnya pernah membintangi Fright Night dan Piranha.

Cast : Fernanda Andrade, Simon Quarterman, Suzan Crowley
Director : William Brent Bell

Rating : 
2/5

Movie Still :
























Senin, 23 April 2012

Review : Modus Anomali (2012)

 
Hallo.. Hallo..  Please Help Me, I Don’t Know What Happen – Man A. Menurut pengertiannya, Anomali adalah suatu penyimpangan atau keanehan yang terjadi seperti tidak biasanya. Mungkin itukah yang ingin diangkat Joko Anwar dalam film terbarunya? Anda harus menunggu dan menyaksikan film terbarunya, yang berjudul Modus Anomali.  Film ini dibuka dengan keadaan hutan pinus yang indah, dedaunan yang begitu hijau. Ketegangan dimulai, ketika seorang pria (Rio Dewanto) bangun dari gundukan tanah dan tidak sadar atas apa yang menimpa pada dirinya. Kemudian pria tersebut masuk kesebuah rumah dan melihat ada handycam yang bertuliskan “Press Play”, dilihatnya seorang wanita sedang hamil dibunuh oleh sosok misterius. Ternyata wanita itu adalah istrinya. Pria itu tidak hanya pergi dengan istrinya ke hutan tersebut, yang tadinya mereka datang untuk berlibur tapi ia juga datang bersama kedua anaknya. Pria tersebut langsung menghawatirkan keadaan kedua anaknya, ia berlari  kesana kemari mencari keadaan anaknya. Akankah pria tersebut bisa menemukan anaknya, yang entah dimana keadaan mereka? Mungkinkah ini ada hubungannya dengan keluarga yang juga sedang berlibur di hutan tersebut?

Berbeda dengan di Pintu Terlarang, di film terbarunya ini Joko Anwar menulis serta mendirect filmnya sendiri. Saya tidak habis pikir kalau filmnya seperti ini, yang dalam ada pikiran saya ketika menyaksikan film ini “kok begini yah?, apa yang terjadi sebenarnya?”. Mungkin itu jugalah yang akan menjadi pertanyaan dalam pikiran anda ketika menyaksikan film yang satu ini. Untuk urusan mendirect, tidak ada yang perlu dikomentari saya rasa. Joko selalu dengan baik mendirect setiap filmnya mulai dari Janji Joni hingga Pintu Terlarang. Sinematografi dalam film ini begitu bagus, gak pernah sebelumnya menyaksikan film Indonesia dengan sinematografi seperti ini. Untuk soundnya itu gokil banget. Dan benar apa yang dikatakan oleh Sheila Timothy, kalau mau menyaksikan film ini di bioskop akan serasa berbeda. Ya itu benar – benar terjadi, saya malah merasakan kalau saya sedang berasa benar – benar di hutan pinus. Scoring di film ini begitu bagus, malah saya bisa katakan gak jauh beda kualitasnya dengan scoring – scoring film dari Hollywood. Aghi Narrotama, Bemby Gusti dan Ramondo Gascoro berhasil membuat scoring yang nge-blend dengan filmnya.

Cast yang ada di film ini tidak semuanya adalah orang yang sering bermain film, beberapa dari mereka ada yang baru pertama kalinya berakting dalam sebuah film. Mereka adalah Sadha Triyudha, Jose Gamo, Izzi Isman dan Aridh Tritama, pemain muda yang merupakan hasil casting yang sempat dilakukan secara online melalui facebook Modus Anomali. Ternyata akting mereka saya bilang gak datar banget, mereka bisa memerankan karakter mereka dengan baik. Rio Dewanto tidak perlu diragukan kembali totalitasnya dalam berakting, dalam film Arisan! 2 dengan sempurna ia memerankan karakter Nino. Begitu juga dengan karakternya di film ini, Rio pun dapat memerankan karakternya dengan baik. Tidak hanya ada Rio, film Modus Anomali juga dibintangi Hannah Al Rashid, Surya Saputra dan Marsha Timothy.

Joko Anwar menggunakan bahasa Inggris dalam dialog film ini, dengan maksud untuk menunjukkan kalau setting dalam film ini bukan berada di Indonesia. Dan pengunaaan bahasa inggris, menjadi sesuatu yang baru dan dari awal sampai akhir film ini, saya tidak merasakan adanya karena pengunaannya. So, ga ada salahnya untuk menyaksikan film yang juga akan edar di US ini. Dan siap – siap anda akan dibuat bertanya – tanya dan tidak sabar keluar dari ‘puzzle’ Modus Anomali yang di ciptakan Joko Anwar. 

Cast : Rio Dewanto, Hannah Al- Rashid, Surya Saputra, Marsha Timothy
Director : Joko Anwar

Rating :
3.5/5

Movie Still :


















Jumat, 20 April 2012

Review : 21 Jump Street (2012)


Hey Korean Jesus.- Schmidt. Mendengar 21 Jump Street rasanya tidak begitu asing bagi yang lahir di tahun 80an. Ditahun 1987 sampai tahun 1991 ada sebuah serial berjudul 21 Jump Street, yang berkisah tentang aksi penyamaran dan  dilakukan oleh beberapa orang dari kepolisian. Johnny Depp aktor yang tidak diragukan kualitas aktingnya di Hollywood ini, memerankan karakter Officer Tom Hanson. Kini di tahun 2012 hadirlah film yang memiliki judul sama namun bukan lagi Johnny Depp yang hadir di film ini, tapi 2 aktor masa kini dan menjadi pujaan banyak orang ; Channing Tatum dan Jonah Hill.  Dikisahkan ada dua orang anak SMA bernama Morton Schmidt (Jonah Hill) dan Greg Jenko (Channing Tatum). Schmidt selalu menjadi bahan ejekan Jenko selama masa SMA, namun terjadi perubahan ketika 7 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali.  Mereka sama – sama masuk kedalam akademi kepolisian, disitu mereka masing – masing menyadari kekurangan mereka dan berusaha untuk saling mendukung satu sama lain. Dan berhasillah mereka lulus dari sekolah kepolisian, tapi apa yang mereka harapkan ternyata berbeda. Jenko dan Schmidt hanya menjadi ‘polisi taman’, namun keberhasilan mereka melakukan sesuatu membawa Jenko dan Schmidt naik jabatan. Mereka ditugaskan pergi ke 21 Jump Street, disana Jenko beserta dengan Schmidt diberi tugas penyamaran sebagai siswa SMA. Di SMA tempat mereka ditugaskan, terdapat penyebaran narkoba yang telah memakan 1 korban jiwa. Berhasilkah Schmidt dan Jenko melakukan misi mereka untuk 21 Jump Street?

Ketika mengetahui film ini memiliki rating begitu bagus di Rotten Tomatoes, saya langsung semangat untuk menyaksikannya. Jarang sekali film bergenre seperti ini yang memiliki rating diatas. Dari awal hingga akhir film ini, anda akan dibawa tertawa terbahak – bahak. Apalagi ketika mereka sedang giting / nge-fly, ekspresi Tatum dan Hill yang sebagi Jenko dan Schmidt begitu lucu dan membuat saya tidak dapat menahan tawa. Cerita mudah untuk diikuti, tidak ada yang membuat anda akan berpikir, ini adegan apa? gimana?.  Kehadiran sang ‘cameo’ membuat saya tidak menyangka, karena kehadirannya menjelang film ini berakhir membuat orang yang sangat fans serial tvnya pasti begitu senang. Mungkin dari kalimat sebelumnya, anda sudah mengetahui siapa cameo yang saya maksud. Saya menyarankan untuk orang tua atau orang yang sudah cukup dewasa, untuk tidak mengajak adik- adiknya yang  masih kecil karena banyak kata kasar dalam dialognya.  Akting Tatum saya rasa biasa saja, gak ada yang terlalu istimewa sama dengan beberapa film yang ia bintangi. Berbeda dengan Hill yang saya bilang bisa memerankan karakternya, sebagai Schmidt dengan baik.

Tidak hanya Hill dan Tatum yang menjadi cast untuk film ini, hadir pula Ice Cube juga Jake M. Johnson. Jake mungkin lebih dikenal sebagai Nick di serial tv New Girl . Sutradaranya adalah duo Phil Lord dengan Chris Miller. Mereka berdua sebelumnya menyutradarai film animasi Cloudy with a Chance of Meatballs, yang begitu berwarna dan menjadi salah satu film animasi favorit saya.

Cast : Channing Tatum, Jonah Hill, Dave Franco, Ice Cube
Director : Phil Lord, Chris Miller

Rating :
3.5/5 

Movie Still :

























Selasa, 10 April 2012

Review : [REC]³ Génesis (2012)


the happiest day of my life. REC dikenal sebagai film zombie asal Spanyol yang menggunakan tehnik found footage. Setelah di tahun 2009 hadir [Rec] ², dalam jangka tiga tahun hadirlah [REC]³ Génesis. Sebenernya film ketiga yang disutradarai oleh Paco Plaza ini, bukanlah sebuah sekuel. Tetapi kisah dalam [REC]³ ini sebenarnya, menjadi jembatan diantara kisah antara REC dengan [Rec] ². Mengetahui konsep dari kedua film sebelumnya, saya sudah berharap film ini akan hadir sama menegangkan dan serunya. Tapi ternyata tidak.Film ini menceritakan, tentang seorang wanita bernama Clara (Leticia Dolera) yang akan melangsungkan pernikahan bersama pujaan hatinya bernama Koldo (Ismael Martinez). Namun keadaan yang tadinya berlangsung menyenangkan dan terasa penting bagi Clara dan Koldo berubah menjadi kelam.Paman dari Koldo yang memiliki luka akibat gigitan seekor anjing, menjadi kejam dan brutal. Tidak hanya sang paman, tapi beberapa orang yang membantu terlaksananya pesta tersebut mengalami hal yang sama. Dapatkah Clara dan Koldo keluar dari tempat tersebut atau mereka berdiam dalam tempat tersebut? Atau mereka akan menjadi sama, seperti yang lain? Untuk mendapatkan jawabannya, mungkin anda harus menyaksikan film ini.

Paco berhasil mendirect kedua film sebelumnya, namun kali ini ada yang terasa berbeda yaitu pada teknik pengambilan gambar yang digunakannya di film ini. Dibeberapa menit awal, sebelum credit title film ini masih menggunakan found footage namun setelah itu semua ekspetasi berubah, Paco menggunakan format gambar biasa, seperti format gambar pada film umumnya.Di film ketiga ini lebih banyak unsur dramanya, malah untuk unsur thrillnya pun tidak terlalu banyak saya rasa. Tidak hanya itu di [REC]³ Génesis, disisipkan pula unsur komedi / sesuatu yang terasa konyol dan ini bukan unsur yang umumnya ada di sebuah film yang thrilling. Beberapa adegan di film ini terasa terlalu didramatisir dan membuat kita yang menyaksikannya, malah bukannya deg - degan tapi malah gregetan.

Trailer mungkin jauh lebih keren dibandingkan 'isi' sebenarnya. Tapi nyatanya film ini  tetap membuat saya terhibur karena cerita yang ada, dapat tertutupi oleh adegan - adegan berbalut special effect yang akan membuat anda tercengang ketika anda menyaksikannya. Kalau dilihat dari pertama, kedua lalu ke film ketiga ini inilah film yang terburuk, namun tidak ada salahnya untuk anda yang telah menyaksikan kedua film sebelumnya, menyaksikan film ini sebelum [REC] Apocalypse rilis.

Cast : Leticia Dolera, Javier Botet, Diego Martin, Ismael Martinez
Director : Paco Plaza

Rating :
3/5

Movie Still :













Kamis, 29 Maret 2012

Review : The Muppets (2011)


Jack Black's got nothing. - Kermit. Muppets, boneka tangan yang dipimpin oleh 'seekor kodok' ini kembali lagi ke layar lebar. Setelah terakhir kali mereka hadir dalam The Muppets : The Wizard Of Oz di tahun 2005.  Kali ini dikisahkan tentang Gary (Jason Segel) dan Walter (Peter Linz), adik dan kakak yang begitu sangat mencintai tokoh The Muppets dari sejak mereka kecil. Mereka adik dan kakak yang begitu saling care. Dalam setiap tahunnya Gary tumbuh semakin besar, menjadi seorang pria dewasa. Namun Walter tidak pernah tumbuh menjadi dewasa, karena ia termasuk dalam kalangan / kelompok seperti Muppets. Gary yang telah memiliki pasangan yaitu seorang wanita bernama Mary (Amy Adams), merencanakan untuk liburan bersama. Karena kasihan terhadap adiknya, akhirnya Gary pun mengajak Walter untuk pergi bersama. Akhirnya Gary, Walter dan Mary pergi bersama dan mereka juga mengunjungi studio milik Muppets. Sayang, kondisi studionya sudah dalam keadaan kumuh dan rusak, tidak seperti pada masa kejayaan-nya dulu. Walter yang begitu iseng memasuki satu ruangan, ia mendengar bahwa studio itu akan dibeli dan dihancurkan oleh seorang investor kaya. Walter yang mendengar itu shock, akhirnya ia memberitahu Gary bahwa Muppets dapat memiliki kembali studio itu jika berhasil mengumpulkan sejumlah uang. Namun akankah Gary dan Walter bersama Mary berhasil menemukan para anggota Muppets? padahal mereka sudah terpisah satu demi satu.

Film yang dari awal hingga akhir menurut saya fun ini, dibintangi oleh Jason Segel dan Amy Adams. Segel tidak hanya berakting, namun juga menulis naskah untuk film ini. The Muppets tidak hanya ada Amy dan Segel, tapi juga ada beberapa aktor dan aktris kondang Hollywood, diantaranya Alan Arkin, Zach Galifianakis, Ken Jeong, Jack Black dan masih banyak lagi. Yang menyutradarai, yaitu seorng pria bernama James Bobin. James, lebih terkenal sebagai writer / penulis naskah untuk series Flight Of The Conchords.

The Muppets mungkin pilihan film yang tepat, untuk para fans dari para boneka ini untuk reunian. Dari segi cerita The Muppets sangat mudah untuk diikuti, namun yang menjadi special dari film ini adalah kehadiran cameo yang saya sendiri gak pernah expect mereka akan hadir di film ini. Salah satu elemen yang membuat film ini terasa baik adalah musik, mungkin karena film ini film musikal jadi musik yang dihadirkan oleh sang penata musik terasa begitu menyatu dengan cerita yang ada. Segel dan Amy untuk urusan akting tidak perlu kita ragukan kembali kualitasnya, namun chemistry mereka berdua di film ini tidak terlihat baik sebagai sepasang kekasih. Intinya The Muppets film yang akan membawa anda kembali ke masa Muppets masih jaya dan begitu menyenangkan dari awal hingga akhir.

Cast : Jason Segel, Amy Adams, Chris Cooper, Alan Arkin
Director : James Bobin

Rating :
4/5

Movie Still :